Sasuke's Mangekyō Sharingan

Wednesday, 21 May 2014

Budaya Khas Madura "Ater-Ater"






   Terdapat tradisi yang unik, mengesankan, dan agak sulit kita temukan di tempat selain di Madura atau paling tidak di masyarakat Madura. Tradisi tersebut adalah budaya Ater-ater. Ater-ater ini adalah sebentuk tradisi masyarakat Madura terutama di pedalaman dan grass root yang paling banyak ditemui ketika ada hajatan, selametan dalam segala macamnya, hari raya keagamaan, tasyakuran, dan lain sebaginya. Hari keagamaan disini berupa hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, hari raya Ketupat, Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’Mi;raj, Sa’banan (tanggal 15 bulan Sa’ban), malam 21 dan 27 pada bulan Ramadhan, dan peringatan hari-hari tertentu orang yang telah meninggal (malam ke 3, 7, 40 hari, 100 hari, tahunan, dan 1000 hari). Sedangkan mengenai macam-macam hajatan atau selamatan itu sendiri berupa acara pernikahan, acara lamaran, tasyakuran hasil panen, selamatan wanita yang baru hamil pertama kali (ketika umur 7 bulan), Asyuroan (biasanya masyarakat Madura ketika masuk bulan Asyuro mengadakan selamatan dengan membuat bubur khas Madura), selamatan bulan Safar (masyarakat Madura mengadakan selamatan dengan membuat bubur merah), dan banyak lagi yang lainnya. Bahkan, ada pula yang rutin setiap minggu pada malam Jum’at. Hanya saja biasanya banyak dilakukan kepada guru ngaji dan sebagainya.

Kegiatan ater-ater ini diaplikasikan dengan menghantarkan barang (terutama makanan) pada sanak keluarga atau tetangga yang ada di sekitar. Namun tidak jarang tradisi ini juga dilakukan dan tujukan pada sanak saudara yang jauh.

Bagi kalangan masyarakat Madura, ater-ater merupakan tradisi yang telah turun-temurun. Hal ini dilakukan untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahmi antar keluarga atau tetangga. Budaya tersebut sudah turun temurun warisan dari nenek moyang yang sampai saat ini tetap dilestarikan oleh generasi muda. Ter-Ater itu yakni saling tukar atau mengantarkan nasi lebaran ke sanak famili atau kepada tetangga baik yang dekat maupun yang jauh yang diyakini akan memperlancar rejeki serta memperpanjang usia dan di jauhkan dari mara bahaya.

Budaya Ter-Ater nasi lebaran yang diantarkan lengkap dengan ikan dan lauk serta kuahnya. Budaya itu di lakukan saat menyambut lebaran Idul Fitri yang menandakan ke akraban sesama tetangga dan famili untuk saling bersilaturahmi, serta tanda syukur telah dapat menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Adat istiadat tersebut selain tanda syukur sudah mejalankan puasa satu bulan penuh, juga diyakini memperpanjang usia dan akan memperlancar rejeki hingga bulan puasa tiba kembali. Kepercayaan orang Madura perlunya melestarikan budaya itu, karena akan memperlancar rejeki dan akan panjang usia.

Barang yang dibawa sebagai oleh-oleh bagi yang dikunjungi berupa makanan yang siap saji, seperti nasi putih berserta lauk daging sapi, kambing, ayam, lengkap dengan kue dengan berbagai macam jenisnya. Jajanan, nasi, dan lauk pauk tersebut disimpan dalam wadah khusus, semacam termos untuk piknik. Lalu dijinjing dibawa ke tempat saudara atau tetangga yang akan dikun jungi.

Makanan siap saji dan tidak tahan lama tersebut biasa dibawa pada saudara atau tetangga dekat. Jika yang hendak dikunjungi atau diater-ater adalah keluarga yang letaknya jauh, barang bawaannya biasanya barang yang tidak mudah basi tapi unik. Hanya bisa didapat di tempat-tempat tertentu.

Budaya atau tradisi ater-ater ini dikalangan masyarakat Madura juga dikenal dengan istilah Rebba. Dan ini tidak hanya dilakukan kepada para kerabat, dan sanak famili saja, tapi juga kepada sesepuh desa, guru ngaji dan pengasuh pondok pesantren atau kyai.

Ter-ater untuk kyai pengasuh pondok pesantren, bukan hanya berupa makanan, tapi bisa juga berupa hasil bumi. Seperti jagung, padi, ketela pohon, dan berbagai jenis buah-buahan yang menjadi hasil pertanian mereka. Setiap panen, baik panen jagung ataupun padi, pasti disisihkan khusus untuk kyai dan guru ngaji anak-anak dari masyarakat itu sendiri

Di bulan suci Ramadhan, tradisi saling mengantar makanan, atau ter-ater biasanya pada malam pertama puasa dan pertengahan bulan puasa, yakni mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri.

Pada malam pertama Ramadhan dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan Allah. Sedang pada tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri diharapkan akan mendapat berkah malam lailatur-qodar, dimana sebagian ulama mempercayai bahwa malam lailatul-qodar mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri pada malam ganjil. Seperti malam tanggal 17, 19, 21, tanggal 23, 25, 27 hingga 29 Ramadan.

Sebagai salah satu dari elemen budaya masyarakat Madura, ater-ater dapat dijadikan sebuah teropong atau sekeping cermin yang dapat menggambarkan identitas dan karakter masya rakat Madura.Namun tradisi ini sering luput dari perhatian para peneliti. Mungkin saja tradisi ini dianggap cukup sepele dan biasa-biasa saja. Padahal, ater -ater ini adalah salah satu kegiatan atau ritual budaya yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang ramah, dermawan, komunikatif, baik hati, dan memiliki solidaritas yang tinggi pada sesama.

Pada momen hari raya keagamaan seperti lebaran, ater-ater  ini menemukan momennya yang cukup signifikan. Hampir setiap orang masyarakat Madura melakukannya. Mereka tidak sekedar pergi bertamu untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Mereka tidak lupa membawa sesuatu yang mereka makan di rumahnya.

Pada momen lebaran, ater-ater  biasanya didominasi oleh mereka yang sedang bertunangan. Rasanya tidak pas jika ater-ater pada sanak saudara di hari raya, jika tidak bersama-sama tunangan. Tidak jarang, budaya ater-ater ini dijadikan wahana bagi seseorang untuk memperkenalkan tunangannya pada tetangga atau keluarganya yang lain. Selain itu kebanyakan para pasangan suami istri muda yang baru nikah juga memanfaatkan momen-momen tertentu atau hari-hari tertentu tersebut di atas untuk memperkenalkan sekaligus mempamerkan pasangannya dengan cara ater-ater makanan atau jajanan kue kepada para sanak keluarganya baik yang dekat maupun yang jauh.




Budaya Pesta Madura “Aremoh” (“Tok-otok”)




Pulau Madura adalah pulau kecil yang memiliki berbagai macam kebudayaan dan tradisi yang sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia . salah satunya adalah tradisi “Aremoh” yang berarti “Hajatan/Perayaan”.”Aremoh” memiliki tujuan untuk merauk keuntungan/mendapatkan kembali apa yang telah diberikan kepada semua orang yang telah diundang,seperti sesuatu dibalik amplop (selembar uang) yang jumlahnya lumayan untuk mengganti bahan pokok yang telah terpakai untuk hajatan,ada pula yang menggantinya dengan beras,gula, dan telur.itu semua tidak hanya diterima begitu saja melainkan dicatat di dalam buku pribadi yang nantinya akan menjadi hutang bagi pemilik hajatan kepada orang yang diundang . sehingga pemilik hajatan harus membayar sama seperti apa yang diperolehnya. Perayaan  ini biasa terjadi pada saat dilangsungkannya acara pertunangan,pernikahan dan khitanan . sebagai symbol mereka bersyukur kepada sang Pencipta bahwa mereka dapat melaksanakan perintah-Nya . dan didalam pernikahan “Aremoh” biasa dirayakan oleh mempelai wanita, hanya saja dari semua ini bergantung pada  niat dari masing – masing individu saat memberi sesuatu atau pada saat mengadakan sesuatu itu berbeda – beda, sehingga disebutlah hutang yang harus dibayar.

Perayaan lain yang menjadi tradisi di Madura adalah “tok-otok”,tradisi ini memiliki sedikit perbedaan dengan “Aremoh”, didalam “Aremoh” para undangan diberi makan, lain halnya dalam tradisi ini,para undangan hanya duduk mendengarkan musik dan diberi cemilan kacang sangrai dan jagung goring . persamaannya adalah sama – sama menginginkan keuntungan dari semua warga yang ikut serta hanya saja dalam acara “tok–otok” ini lebih menginginkan keuntungan yang besar dibandingkan “Aremoh”. Persamannya adalah . dalam acara ini kebanyakan diantara orang – orang yang datang memainkan permainan kartu , minum – minuman beralkohol,atau sekedar ikut memeriahkan dengan segelas kopi  hingga menjelang subuh .

Aremoh” ini terjadi karena kebiasaan masyarakat Madura yang menganggap bahwa dirinya pernah memiliki hutang kepada tuan rumah yang mengadakan hajatan . dimana para tetangga / orang – orang yang mengenalinya akan membawa sesuatu yang akan dibayar jika si pemberi juga mengadakan hajatan . hal ini juga terjadi karena keinginan meraih keuntungan yang lebih besar atau mengembalikan modal awal tuan rumah (penyelenggara hajatan) pada saat merayakannya.

Faktor lainnya adalah ingin berkumpulnya bersama mendatangkan sanak saudara yang jauh disana (silaturrahmi) dan para tetangga – tetangga dekat sehingga mereka sungkan jika tidak membawa sesuatu untuk pemilik hajatan.

Karna ini sudah menjadi tradisi maka,sangat sulit untuk merubahnya.
*  Memberikan tambahan pemberitahuan di bawah undangan bahwa, tidak menerima  sumbangan apapun.
*    1. Menjalani hidup berpedoman dengan Al-Qur’an dan Hadist
*    2.Melakukan segala sesuatunya hanya untuk mendapatkan Ridha Allah S.W.T

Seni Vokal Khas Madura "Mamaca/Macapat"




Mamaca adalah salah satu seni olah vokal Madura yang merupakan media dakwah dan pendidikan serta media kontemplasi dan pemahaman filsafat. Mulai berkembang di Madura sebelum abad ke-15 (pra Islam). Mamaca biasanya dimainkan oleh dua orang pemain, yaitu pembawa lagu dan panegghes.

Panegghes merupakan juru makna yang bertugas menjelaskan arti dan isi dari lagu yang dinyanyikan oleh pembawa lagu. Ia juga sebagai penerjemah tembang yang dinyanyikan dengan bahasa Madura.

Mamaca memiliki dua unsur penting, yakni seni sastra dan seni suara (vokal). Beberapa nama lagu mamaca Madura antara lain, Artate, Kasmaran, Senom, Salanget dan Dhurma. Cara membawakannya menggunakan gaya tekanan bahasa mirip aksen seorang dalang dalam pertunjukan wayang. Ketika mamaca dilantunkan, biasanya diiringi seruling, gambang, dan instrumen gamelan lain—yang dibunyikan dengan samar atau lirih—dengan tujuan suara pembawa lagu menjadi lebih dominan. Dan tak jarang, kegiatan mamaca hanya diiringi seperangkat kecil gamelan: gambang atau seruling saja.

Ciri khas yang paling menonjol adalah suara si penembang yang diembat-embat (vibrasi) berkepanjangan, seakan tak ada putusnya antara bagian lirik lagu yang satu dengan yang lainnya. Tembang tersebut menjadi terasa penuh dengan sentuhan kelembutan.

Bang-tembangan mamaca umumnya dengan pembacaan sebuah kakawin secara bersama-sama. Sedangkan kakawin biasanya dalam bahasa Jawa Kawi atau Madura klasik. Di sinilah peran panegghes atau tokang tegghes (juru makna) dimainkan. Perhelatan tersebut biasanya untuk mengiringi prosesi ritual-ritual tertentu, misalnya selamatan kandungan (pelet kandung), Rorokadan (rokat) seperti rokat bujuk dan pandhaba, potong gigi (mamapar), dan sunatan.

Akar Mamaca

Bagi masyarakat Madura yang memiliki diligensi eklektik dan animo yang kuat terhadap primordialitas budayanya, mereka tentu membantah terhadap persepsi orang luar (Jawa) yang beranggapan bahwa mamaca Madura merupakan embrio dari budaya Jawa. Meski sedikit banyak terdapat pengaruh dari kebudayaan Jawa yang bersumber dari kraton, namun bukan berarti Madura tidak mempunyai akar budaya sendiri. Mamaca Madura mempunyai ciri khas tersendiri. Dan munculnya anggapan bahwa mamaca Madura merupakan imitasi kebudayaan Jawa agaknya lebih terkait persoalan transfer informasi yang terhambat.

Dinamika budaya mamaca di Madura merupakan manifestasi defensif masyarakat terhadap kesenian yang diwariskan nenek moyangnya. Dalam perkembangannya, ia tak lepas dari transisi ajaran Hindu di mana dalam perkembangan berikutnya filosofi Hindu menjadi bait-bait yang mengandung nilai filosofi Islami sebagai nilai inti (core value). Hal ini terkait peran para mubaligh di masa lampau yang menjadikan kesenian sebagai media dalam berdakwah.

Para mubaligh terdahulu menciptakan tembang-tembang kreatif dan inovatif yang berisi doktrin agama, puji-pujian kepada Allah, anjuran dan ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan. Menyeru pesan-pesan agama: moralitas, pencarian dan kontemplasi hakekat kebenaran dan pembentukan manusia yang berkepribadian dan berkebudayaan. Melalui tembang mamaca tersebut, setiap manusia diketuk hatinya untuk lebih memahami dan mendalami makna hidup.

Membawakan mamaca
                Cara membawakannya ngangguy gaya tekanan bahasa pada ban aksen dalang e dalam pertunjukan wayang. Selama orang memaca yang diungkapkan melalui lelagon selalu diiringi seruling, gambang, dan alat gamelan lain yang dibunyikan dengan samara – samara dengan tujuan suara pembaca menjadi lebih dominan. Setelah menyelesaikan beberapa bait akan diselingi dengan gending – gending yang dimainkan menggunakan seluruh instrument gamelan. Cirri khas yang paling menonjol adalah suara si penembang yang diembat – embat (fibratis) berkepanjangan seakan – akan tidak ada putus – putusnya antara bagian – bagian kalimat lagu satu dengan lainnya. Macapat versi Madura lakar lebih nonjolaghi segi lagu dari pada isinya. - Jenis lagu mamaca antara lain : Artatê (Jawa : Dhandanggula), Kasmaran (Jawa : Asmarandhana), Sênom (Jawa : Sinom), Salangêt (Jawa : Kinanthi).

Permainan Tradisional Madura "Bhanteng"



Permainan tradisional telah banyak terbukti memiliki nilai-nilai edukatif. Nilai-nilai itu misalnya, keakraban, kemandirian, kerja keras, sportifitas, cara mengatur strategi, keseimbangan,?dll. Semua nilai tersebut amat membantu terhadap perkembangan karakter anak.
Salah satu permainan tradisional anak-anak Madura yang mengandung banyak nilai edukatif adalah bhanteng. Di dalam prakteknya, anak-anak diajarkan banyak hal yang bisa membangun karakter positif dalam diri mereka.
Bhanteng dimainkan oleh dua kelompok anak-anak yang masing-masing kelompok punya satu benteng. Benteng tersebut adalah pohon berbatang agak besar, sekiranya bisa dipegang oleh sejumlah anak. Jarak antara dua benteng tergantung kesepakatan pemain, yang penting masih bisa dijangkau.
Masing-masing kelompok harus mempertahankan bentengnya dari penyelundup yang kapan saja bisa merebutnya. Pohon tersebut tak boleh disentuh oleh musuh. Jika disentuh, maka ia menjadi milik musuh dan mereka dinyatakan kalah.
Para penyelundup di masing-masing kelompok juga?harus hati-hati. Sebab, bila mereka tertangkap, harus siap ditahan. Semakin banyak anggota ditahan, maka kian lemah pertahanan benteng tersebut. Hal itu bisa membuat musuh makin leluasa menguasainya.
Para tahanan bisa dibebaskan dengan cara dijemput secara hati-hati oleh temannya yang belum tertangkap. Para tahanan ditawan di tengah-tengah antara dua benteng. Mereka bisa bebas jika yang menjemput tidak kena tangkap juga. Jika kena tangkap, maka mereka juga harus siap ditahan.
Para penahan juga harus awas. Sebab, musuh bisa kapan saja membebaskan kawannya yang mereka tahan.
Ada banyak nilai edukatif dalam permainan bhanteng. Nilai-nilai itu:
Pertama, adalah kesolidan. Masing-masing kelompok harus solid untuk memastikan keamanan bentengnya. Jika tidak, musuh akan dengan mudah mengacak-acak benteng tersebut.
Kedua, permainan bhanteng juga mengajarkan anak-anak untuk berstrategi. Bagaimanapun, dalam merebut benteng lawan atau membebaskan kawannya yang ditahan, mereka butuh cara agar tidak juga tertangkap. Sebab, bilamana tertangkap sama artinya mereka bunuh diri.
Ketiga, keberanian. Mereka harus punya inisiatif mengambil langkah-langkah berani untuk mempertahankan bentengnya atau membebaskan kawannya yang ditahan.
Keempat, keakraban dengan alam. Medium pohon yang menjadi benteng membuat mereka kian akrab dengan alam. Terlebih lagi, mereka juga bermain di ruang terbuka, kadang belepotan tanah dan lumpur.
Demikianlah, permaian yang memiliki nilai-nilai edukatif itu mulai redup dari daftar permainan anak-anak di Madura. Di sebagian tempat mungkin masih ada yang mempraktekkannya, namun kian sedikit saja. Lambat laun ia mulai digantikan oleh game-game digital dari negeri seberang.