Sasuke's Mangekyō Sharingan

Wednesday, 21 May 2014

Etika Berkendara Saat Lewat di Depan Rumah Orang di Madura





Akhlaq bagi orang Madura menempati posisi yang sangat tinggi sekali. Di Madura, orang pintar tapi tidak berakhlaq atau tidak berperilaku baik tidak akan menempati posisi yang baik. Orang itu kemudian akan disebut sebagai orang yang sombong dan tidak layak untuk dihormati.

Demikian juga ini terjadi kepada orang yang otaknya tidak terlalu cerdas tapi akhlaqnya bagus, maka dia akan lebih dihormati dan mendapatkan pujian di mana-mana, khususnya di lingkungan tempat dia hidup.

Orang Madura menghargai bahwa orang yang beraklaq baik akan selalu menjaga diri terutama dari cara berbicara dan cara bersikap. Sehingga ketika ada orang Madura salah tingkah, terlalu mengedepankan perilaku yang sewenang-wenang maka di mata orang Madura. dia sangatlah buruk dan tidak layak untuk dihormati dan dijadikan tauladan. Mungkin di daerah lain, diluar Madura mungkin sama.

Hal yang seringkali tampak adalah ketika kita melewati rumah orang di Madura. ketika kita menggunakan sepeda ontel maka kita harus turun ketika melewati rumah orang. Artinya kita tidak dibolehkan melewati jalan di depan rumah orang itu dengan sambil mengayun sepeda. Turun dari sepeda dan mengucapkan kata pangapora akan lebih memberikan kesan kepada orang Madura, terutama kepada si pemilik rumah itu sendiri.

Banyak kesan buruk bagi orang-orang meskipun dia adalah orang baik bisa menjadi buruk di depan orang lain, hanya karena ketika menaiki ?sepeda ontel atau sepeda motor orang itu tidak turun saat melewati rumah orang.

Tapi itu kejadian tahun 80-an sampai tahun 90-an dan sekarang meskipun seringkali juga berlaku tetapi tidak benar-benar diterapkan karena ada banyak pergeseran nilai-nilai budaya dan rumah-rumah yang sudah dibentuk struktur bangunannya di daerah-daerah perkotaan dan sedikit juga diterapkan di pedesaan. Tetapi nilai-nilai seperti ini juga masih tetap berlaku di kampung-kampung yang ada di Madura. maka jika kita pergi ke Madura dan jalan-jalan menggunakan sepeda ontel, saya kira akan bertambah lebih jika sambil turun dan melewati rumah itu dalam keadaan tidak menaiki sepeda.

Ritual Turun-Temurun di Madura "Pandhebeh"



A.Sejarah Pandhebeh
                Pandhebeh adalah mitos yang berasal dari agamaHindu-Budha yang kemudian di adopsi oleh masyarakat Jawa timur (madura)melalui tokoh-tokoh besar agama Islam sebagai pendekatan yang kemudianmenjadi kebudayaan di Madura hingga sekarang dan di percayai keberadaan danmanfaatnya. Menurut beliau pandhebeh ini bertujuan untuk keselamatanmasyarakat itu sendiri, karena pada sejarahnya ada makhluk yang kadang ada dankadang juga hilang dari dunia ini (batarakala) yang akan menggangu anak semasahidupnya apabila belum dirokat pandhebeh, baik dari hal material, fisik dan lainsebagainya. Adapun sejarah yang berhubungan dengan Islam adalah dahulu AbdulMuthallib berjanji kalau mempunyai anak 13 orang akan di sembelih satu orang,kemudian minta petunjuk dan akhirnya di ganti dengan 17 Unta.

B.Pengertian Pandhebeh
Secara Estimologis Pandhebeh berasal dari bahasa jawa yaitu “pandowo”  yang berati lima dewa, karena pada hakikatnya manusia terdiri dari: materi,energi, ruang, waktu dan manusia itu sendiri.
Secara istilah Pandhebe adalah suatu ritual atau Ro’an yang di percayai masyarakat sebagai penghindar dari segala cobaan dan rintangan di dalamkehidupan. Ritual ini hanya dilaksanakan oleh orang tua kepada anaknya denganbeberapa alasan tertentu, yaitu komposisi atau urutan saudara kandung. Sehinggasetelah melaksanakan Pandhebeh ini orangtua merasa puas (karena hal ini dipercayai sebagai suatu kewajiban orang tua terhadap anaknya) dan tidak mempunyai beban lagi terhadap anaknya. Dan anaknya merasa terangkat olehorang tuanya. (karena orang tua telah melaksanakan kewjiban terhadapnya)

D.Proses Pelaksanaan Pandhebeh
Ritual pandhebeh di laksanakan oleh anak yang di perkirakan orangtuanyatidak mempunyai anak lagi. Bertujuan untuk menghindari kerancuan urutansaudara, dan di laksanakan sebatas kemampuan materialnya.
Pada umumnya ritual ini di laksanakan pada malam hari tepatnya pukul20.00 sampai pukul 04.00 wib dini hari. Karena malam hari merupakan waktuyang lebih baik untuk mendekatkan diri kepada Sang Kholik. Dan ini dipercayaisupaya maksud dan tujuannya akan segera dikabulkan.Menurut salah satu tokoh yang penulis dikampung itu, hal ini di ambil darisejarah perjalanan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad saw.
Adapun hal-hal yang perlu di persiapkan untuk pelaksanaan ritualpandhebeh yaitu:Subjek (anak yang akan di pandhebeh/ hanya satu anak yang mewakilidari beberapa saudara), air kembang dan gayung yang di buat dari buah kelapadan gagangnya dari ranting beringin, kain kafan untuk membalut badannya, ayam,tali ,dan beberapa sesajen lainnya.Hal yang pertama di lakukan oleh orang yang bersangkutan (pandhebeh)adalah tangan kiri di ikat lalu tubuhnya di balut dengan kain kafan (agar selalumenutup dirinya) dan duduk sambil merangkul ayam, (agar penyakit– penyakitmenyerap pada ayam) kemudian di siram dengan air kembang (untuk mensucikandirinya) sambil lalu di suapin nasi (di beri bekal untuk masa depannya, karenaanak akan hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain lagi) dengan carabergantian oleh pihak keluarganya, dimulai dari ke dua orangtua, famili terdekat,kerabat terdekat sampai kepada tetangga terdekatnya.

F.Perspektif Islam tentang Pandhebeh
                Berbicara masalah agama tentu tidak akan pernah lepas dari syariat-syariat dan hukum-hukum tertentu. Namun dalam hal ini bapak Mukrim selaku tokoh budaya Pandhebe mengemukakan bahwa ritual ini memang sepertinya tidak pernah ada dalam syariat Islam, akan tetapi ini adalah cipta karya dan karsamanusia yang semata-mata bertujuan untuk keselamatan umat manusia itu sendiri.Hanya saja ritualnya yang beraneka ragam. Seperti halnya budaya Pandhebe iniyang di percayai oleh masyarakat sebagai ritual yang menyelamatkan seseorangdari marabahaya dalam hidupnya. Jadi budaya ini tidaklah bertentengan denganIslam, karena ini sudah di percayai oleh masyarakat madura sejak dulu dan tidak memeberi efek negatif terhadap Agama, walaupun kadang-kadang ada yangkurang masuk akal. Namun hanya satu tujuannya adalah untuk memohonkeselamatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut beliau budaya inihukumnya mubah, artinya boleh-boleh saja di laksanakan karena tidak bertentangan dengan agama. Namun ternyata dalam budaya pandhebe ini adanilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya, yakni dilaksanakan pada malamhari yang di ambil dari kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw. Dimandikan supayasuci, karena pada dasarnya manusia adalah fitrah (suci).

G.Pandangan Masyarakat Terhadap Pandhebeh
Dalam kehidupan masyarakat ada Budaya, dan ada Agama sebagai controlsosial. Budaya ini dalam kehidupan masyarakat Madura sudah menjadi sesuatuyang kental dan sangat tidak mungkin untuk di tinggalkan, menurut tokohnyaPandhebeh ini sudah menjadi salah satu tradisi yang bersifat wajib bagi masyarakat. Kalau ada salah seorang yang tidak melaksanakan budaya ini maka dianggap tidak etis dan tidak melaksanakan kewajibannya sebagai masyarakatmadura. Karena pada realitasnya banyak perbedaan antara yang melaksanakanbudaya ini dengan yang tidak. Dipercaya atau tidak dalam kehidupan masyarakat banyak hal yang di temui efek dari pelaksanan pandhebe ini, adapun efek bagiyang tidak melaksanakannya adalah jalan hidupnya selalu mengalami banyak rintangan, kesehatannya kurang membaik. Namun bagi yang sudahmelaksanakannya adalah dia merasa hidupnya aman dan nyaman.

Cerita Rakyat Madura "Ke’ Lesap"



Menurut cerita, suatu ketika Baginda Raja pergi kedesa pocong. Ia keluar masuk desa untuk mengetahui keadaan desa. Ketika sampai di suatu tempat, beliau bertemu dengan seorang gadis desa yang menjadi bunga desa di desa tersebut. Masyarakat pocong menyebutnya dengan sebutan Nye Pocong. Tidak lama kemudian,karena Raja itu berkuasa, kemudian Nye Pocong dijadikannya istri. Setelah beberapa lama Baginda Raja Bangkalan  mempunyai anak laki-laki dengan Nye Pocong. Anak laki-laki yang baru lahir itu oleh Baginda Raja Bangkalan diberi nama Ke’ Lesap.

Namun, dengan kehadiran buah hatinya tersebut Baginda Raja Bangkalan pergi dari desa pocong dan kembali ke kerajaan meninggalkan istri dan anaknya. Sunguh kasihan Ke’ Lesap itu karena sudah ditinggalkan ayahnya sejak ia mulai belajar bicara. Ayahnya,Baginda Raja Bangkalan tidak pernah mengunjungi desa pocong lagi, karena itu Ke’ Lesap tidak tahu siapa ayahnya. Ketika Ke’ Lesap bermain dengan teman-temannya di desa , sering kali mereka menertawakannya dan mengejeknya. Dan salah satu temannya berkata dan bertanya pada Ke’ Lesap “Lesap, kamu pandai silat,dan pandai main banyak hal. Kamu juga pandai bertani. Tapi kamu tidak pernah melihat kamu berjalan dengan ayahmu. Kemana ayahmu Ke’ Lesap?

Sebagai seorang anak yang menjelang dewasa, Ke’ Lesap malu ditanya seperti itu. Kemudian ia bertanya pada ibunya Nye Pocong siapa  ayahnya di ulang-ulang. Sedangkan ibunya bingung bagimana menjelaskan  pada Ke’ Lesap bahwa sebenarnya ayahnya adalah Raja Bangkalan. Ibunya bingung apa harus diceritakan atau tidak, namun karena terus menerus ditanyanya, akhirnya ibunya menceritakan dan menyampaikan kepada Ke’ Lesap bahwa ayahnya adalah Raja Bangkalan. Setelah mendenagarkan hal itu, kemudin Ke’ Lesap minta izin ibunya untuk merelakanKe’ Lesap pergi mencari ayahnya. Ke’ Lesap benar-benar ingin tahu siapa ayahnya. Setelah mendengar permohonan anaknyaakhirnya Nye Pocong mengijinkan Ke’ Lesap berangkat mencari ayahnya.

Pendek cerita, Ke’Lesap  pergi ke kota Bangkalan dan tiba di alun-alun dimana dia melihat keraton yang indah. Ia bertemu dengan pekerja keraton dan memberikansalam. Di keraton Ke’ Lesap mencoba melamar menjadi pekerja disana. Dan akhirnya Ke’ Lesap menjadi pekerja  yang bertugas menberi makan kuda milik Raja. Suatu ketika seekor kuda yang tadinya mengamuk. Karena Ke’ Lesap memang cerdik,ia tangkap kuda tersebut dan menaikinya, kuda yang tadinya mengamuk kemudian mengikuti isyarat Ke’ Lesap bejalan menuju kandangnya. Saat itu Baginda Raja memperhatikan dan heran melihat wajah Ke’ Lesap, karena Baginda Raja merasa wajahnya mirip dengan wajah Ke’ Lesap, kemudian Ke’ Lesap dipanggil oleh Baginda Raja dan bertanya pada Ke’ Lesap, Dari mana dananak siapa. Namun setelah mendengar jawaban Ke’ Lesap, Baginda Rajaterkejutdan berfikir bahwa Ke’ Lesap itu adalah puteranya dengan Nye Pocong dulu. Begitujuga Ke’ Lesap, dia merasa bahwa Baginda Raja itu adalah ayahnya. Dan Baginda Raja memerintahkan Ke’ Lesap untuk menjadi tukang memandikan kuda si BagindRaja. Mendengar itu Ke Lesap gembira sekali akan tetapi Baginda Raja malu mempunyai seorang anak dan istri dari desa.

Akhirnya, Ke’Lesap diberi kediaman di Duko oleh Baginda Raja. Tempat ini berada di kota Bangkalan sekarang. Di desa itulah tinggal seorang yang berilmu dan dewasa yaitu Ke Lesap.di Duko,ke’ Lesap  mengajarkan pencak silat pada para pemuda di Duko dan muridnya semakin banyak. Jika ada orang sakit ia juga dapat menyembuhkannya,karena itu semakin banyak muridnya.

Ketika Baginda Raja mendengar bahwa Ke’ Lesap mempunyai  murid banyak dandan belanda mendengar bahwa ada seorang pemuda dengan murid yang banyak sedang belajar pencak silat. Jadi kegiatan anak muda yang mengajari pencak silat kepada kaum pemuda terdengar orang belanda yang mingibuli Baginda Raja agar  Ke’ Lesap di jaga. Lalu Baginda Raja menempatkan penjaga di Duko. Sejak itu kampung itu oleh orang-orang disebut desa pejagan. Sekarang menjadi desa pejagan. Jadi, desa pejagan adalah tempat orang-orang Baginda Raja ketika mengaasi Ke’ Lesap.

Ke’ Lesap akhirnya mengerti, mengapa Baginda Raja bersikap seperti itu walaupun  saya bersikap baik selama ini di sini. danKe’ Lesap terus menjauh dari pajagan, lari kearah Timur untuk bertapa di Pajuddan. Ktika di Pajuddan, Ke’ Lesap bertapa,mengobati orang sakit lagi, dan juga mengajar pencak silat. Bersemedi setiap malam dan sedikit makan. Akhirnya, yang Maha Kuasa memberi Ke’ Lesap senjata yang dinamai Kodi’ Crancam. Kodi’ Crancam itu kalau dilempar dapat terbang sendiri. Makin banyak pengikutnya,makin banyak murid-muridya, kemudian berniat ingin menguasai Madura.

Pertama yang ditaklukkan adalah bagian Timur Madura, Sumenep. Raja Sumenep ditantang untuk menyembah Ke’ Lesap. Raja Sumenep tidak berani, rakyatnya tidak kuat melawan tentara Ke’ Lesap, dan Raja Sumenep dikalahkan. Dan Ke’ Lesap meneruskan ke Pamekasan. Di Pamekasan Ke’ Lesap menang lagi. Akhirnya terus pergi ke Sampang. Di Sampangpun ia menang lagi.

Dari perangnya, Ke’ Lesap di Sumenep tidak lama. Hanya dalam semalam ia dapat menaklukkan Raja Sumenep. Sejak saat itu, Ke’ Lesap memberi nama tempat ini Songenep atau sekarang Sumenep. Yang di Pamekasan, tidak sampai terjadi perang, hanya diberi peringatan saja. Bahwasanya Ke’ Lesap dengan tentaranya akan melewat Pamekasan dan diminta untuk tidak  menghalanginya. Ketika Raja Pamekasan mendengar bahwa Ke’ Lesap beserta tentaranya akan menuju Pamekasan, ia melarikan diri belum sampai perang. Jadi dengan hanya peringatan saja Raja pamekasanbisa dikalahkan dan selanjutnya tempat dinamai Mekasan atau peringatan. Di Sampang malah lebih gampang lagi. Mendengar bahwa Ke’ Lesap akan menyerbu Sampang, raja dan semuanya melarikan diri. Hanya dilewati saja tentara Sampang sudah melarikan diri. Dengan alasan ini tempat ini dinamai Sampang atau lewat. Dan menjadi Sampang.

Terus ke arah Barat, Ke’ Lesap dan tentaranya tiba di Blega. Waktu itu malam hari, mereka tidur. Dalam tidurnya Ke’ Lesap bermimpi melihat pohon bercabang empat. Ke’ Lesap menebang batang ke satu, ke dua, dan ke tiga terpotong semua. Salah satu yang tertinggal, cabang ke empat tidak dapat ditebang. Senjata yang ayunkan memantul dan melesat, ini yang mengejutkan Ke’ Lesap.

Meskipun sudah punya rencana untuk mengalahkan Bangkalan, walaupun Baginda Raja Bangkalan adalah orang tuanya sendiri, ia terus menuju ke Barat. Baginda Raja mendengar tentang hal ini. Dan berkata, “Orang seperti ini tidak dapat dihadapi dengan kekerasan. Orang arogan seperti ini jangan dihadapi dengan kekerasan. Mari dilawan dengan cara yang tenang yang membuat hatinya tenang. Inilah cara kita menghadapinya. Saya bermimpi bahwa Ke’ Lesap bisa sial senjatanya jika dihadapi dengan wanita, dengan penari.”

Baginda Raja sudah menyiapkan perempuan cantik yang dihias seperti putri Raja Bangkalan. Dan dibawa ke suatu tempat yang dinamai Tonjung. Ke’ Lesap dan tentaranya membawa senjata-senjatanya akan menyerbu Bangkalan. Dan Ke’ Lesap heran, karena tentara Bangkalan tidak ada yang membawa senjata, malah hanya membawa alat-alat musik.
Melihat kedatangan Ke’ Lesap, mereka memainkan alat musiknya sambil menari, terus muncullah penari perempuan yang cantik sekali dengan pakaian putri Raja. Ke’ Lesap ketika mendengar bunyi-bunyian, kemudian datang sambil berpikir, “Ada apa ini?”
“Begini Ke’ Lesap, Baginda raja Bangkalan sebenarnya sudah menyerah. Dan ini putrinya diserahkan kepada mu.”
Sebenarnya perempuan itu bukan putri Raja. Perempuan itu hanya penari yang diberi pakaian serta dihias seperti layaknya putri Raja. Ke’ Lesap mendengar bahwa Raja Bangkalan sudah berani, maka Ke’ Lesap beserta tentaranya ikut menari dengan tentara Bangkalan. Orang-orang yang menyamar sebagai panjak, memberikan minuman tua’ dan makanan sampai mereka kenyang. Akhirnya murid-murid Ke’ Lesap sama-sama mau minum tua’ memabukkan, mereka semua mabuk. Semua murid Ke’ Lesap mabuk dan tertidur, tinggal Ke’ Lesap sendiri yang menari dengan penari.

Baginda raja tiba. Melihat baginda raja, Ke’ Lesap terus melemparkan senjatanya, tapi kali ini tidak dapat terbang lagi. Akhirnya Patih Bangkalan menangkap dan mengikat Ke’ Lesap. Ketika Ke’ Lesap diikat lalu menghilang. Menurut cerita, Ke’ Lesap menghilang. Jadi Ke’ Lesap bukannya dibunuh, tapi diikat oleh patih Bangkalan dan ketika Baginda Raja Bangkalan menghampirinya, Ke’ Lesap menghilang. Melihat Ke’ Lesap menghilang, orang-orangnya Raja Bangkalan bersorak sambil berkata, “Sekarang orang yang membuat rusuhnya madura sudah mampus, sudah mati?” Sejak itu, tempat itu dinamai Bangkalan.

Setelah itu terdengarlah suara, suaranya Ke’ Lesap, “He orang-orang Bangkalan, ingat, saya kalah dengan kamu, tapi nanti akan ada pertanda umbul-umbul klaras dari arah Barat Laut. Ini pembalasan saya kepada orang-orang Madura.

Budaya Khas Madura "Ater-Ater"






   Terdapat tradisi yang unik, mengesankan, dan agak sulit kita temukan di tempat selain di Madura atau paling tidak di masyarakat Madura. Tradisi tersebut adalah budaya Ater-ater. Ater-ater ini adalah sebentuk tradisi masyarakat Madura terutama di pedalaman dan grass root yang paling banyak ditemui ketika ada hajatan, selametan dalam segala macamnya, hari raya keagamaan, tasyakuran, dan lain sebaginya. Hari keagamaan disini berupa hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, hari raya Ketupat, Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’Mi;raj, Sa’banan (tanggal 15 bulan Sa’ban), malam 21 dan 27 pada bulan Ramadhan, dan peringatan hari-hari tertentu orang yang telah meninggal (malam ke 3, 7, 40 hari, 100 hari, tahunan, dan 1000 hari). Sedangkan mengenai macam-macam hajatan atau selamatan itu sendiri berupa acara pernikahan, acara lamaran, tasyakuran hasil panen, selamatan wanita yang baru hamil pertama kali (ketika umur 7 bulan), Asyuroan (biasanya masyarakat Madura ketika masuk bulan Asyuro mengadakan selamatan dengan membuat bubur khas Madura), selamatan bulan Safar (masyarakat Madura mengadakan selamatan dengan membuat bubur merah), dan banyak lagi yang lainnya. Bahkan, ada pula yang rutin setiap minggu pada malam Jum’at. Hanya saja biasanya banyak dilakukan kepada guru ngaji dan sebagainya.

Kegiatan ater-ater ini diaplikasikan dengan menghantarkan barang (terutama makanan) pada sanak keluarga atau tetangga yang ada di sekitar. Namun tidak jarang tradisi ini juga dilakukan dan tujukan pada sanak saudara yang jauh.

Bagi kalangan masyarakat Madura, ater-ater merupakan tradisi yang telah turun-temurun. Hal ini dilakukan untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahmi antar keluarga atau tetangga. Budaya tersebut sudah turun temurun warisan dari nenek moyang yang sampai saat ini tetap dilestarikan oleh generasi muda. Ter-Ater itu yakni saling tukar atau mengantarkan nasi lebaran ke sanak famili atau kepada tetangga baik yang dekat maupun yang jauh yang diyakini akan memperlancar rejeki serta memperpanjang usia dan di jauhkan dari mara bahaya.

Budaya Ter-Ater nasi lebaran yang diantarkan lengkap dengan ikan dan lauk serta kuahnya. Budaya itu di lakukan saat menyambut lebaran Idul Fitri yang menandakan ke akraban sesama tetangga dan famili untuk saling bersilaturahmi, serta tanda syukur telah dapat menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Adat istiadat tersebut selain tanda syukur sudah mejalankan puasa satu bulan penuh, juga diyakini memperpanjang usia dan akan memperlancar rejeki hingga bulan puasa tiba kembali. Kepercayaan orang Madura perlunya melestarikan budaya itu, karena akan memperlancar rejeki dan akan panjang usia.

Barang yang dibawa sebagai oleh-oleh bagi yang dikunjungi berupa makanan yang siap saji, seperti nasi putih berserta lauk daging sapi, kambing, ayam, lengkap dengan kue dengan berbagai macam jenisnya. Jajanan, nasi, dan lauk pauk tersebut disimpan dalam wadah khusus, semacam termos untuk piknik. Lalu dijinjing dibawa ke tempat saudara atau tetangga yang akan dikun jungi.

Makanan siap saji dan tidak tahan lama tersebut biasa dibawa pada saudara atau tetangga dekat. Jika yang hendak dikunjungi atau diater-ater adalah keluarga yang letaknya jauh, barang bawaannya biasanya barang yang tidak mudah basi tapi unik. Hanya bisa didapat di tempat-tempat tertentu.

Budaya atau tradisi ater-ater ini dikalangan masyarakat Madura juga dikenal dengan istilah Rebba. Dan ini tidak hanya dilakukan kepada para kerabat, dan sanak famili saja, tapi juga kepada sesepuh desa, guru ngaji dan pengasuh pondok pesantren atau kyai.

Ter-ater untuk kyai pengasuh pondok pesantren, bukan hanya berupa makanan, tapi bisa juga berupa hasil bumi. Seperti jagung, padi, ketela pohon, dan berbagai jenis buah-buahan yang menjadi hasil pertanian mereka. Setiap panen, baik panen jagung ataupun padi, pasti disisihkan khusus untuk kyai dan guru ngaji anak-anak dari masyarakat itu sendiri

Di bulan suci Ramadhan, tradisi saling mengantar makanan, atau ter-ater biasanya pada malam pertama puasa dan pertengahan bulan puasa, yakni mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri.

Pada malam pertama Ramadhan dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan Allah. Sedang pada tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri diharapkan akan mendapat berkah malam lailatur-qodar, dimana sebagian ulama mempercayai bahwa malam lailatul-qodar mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri pada malam ganjil. Seperti malam tanggal 17, 19, 21, tanggal 23, 25, 27 hingga 29 Ramadan.

Sebagai salah satu dari elemen budaya masyarakat Madura, ater-ater dapat dijadikan sebuah teropong atau sekeping cermin yang dapat menggambarkan identitas dan karakter masya rakat Madura.Namun tradisi ini sering luput dari perhatian para peneliti. Mungkin saja tradisi ini dianggap cukup sepele dan biasa-biasa saja. Padahal, ater -ater ini adalah salah satu kegiatan atau ritual budaya yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang ramah, dermawan, komunikatif, baik hati, dan memiliki solidaritas yang tinggi pada sesama.

Pada momen hari raya keagamaan seperti lebaran, ater-ater  ini menemukan momennya yang cukup signifikan. Hampir setiap orang masyarakat Madura melakukannya. Mereka tidak sekedar pergi bertamu untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Mereka tidak lupa membawa sesuatu yang mereka makan di rumahnya.

Pada momen lebaran, ater-ater  biasanya didominasi oleh mereka yang sedang bertunangan. Rasanya tidak pas jika ater-ater pada sanak saudara di hari raya, jika tidak bersama-sama tunangan. Tidak jarang, budaya ater-ater ini dijadikan wahana bagi seseorang untuk memperkenalkan tunangannya pada tetangga atau keluarganya yang lain. Selain itu kebanyakan para pasangan suami istri muda yang baru nikah juga memanfaatkan momen-momen tertentu atau hari-hari tertentu tersebut di atas untuk memperkenalkan sekaligus mempamerkan pasangannya dengan cara ater-ater makanan atau jajanan kue kepada para sanak keluarganya baik yang dekat maupun yang jauh.